Penelitian: Kerja Melebihi 40 Jam Sepekan Berbahaya Bagi Kesehatan Perempuan

Mungkin banyak di antara kita yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam dalam sepekan untuk berkutat dalam pekerjaan.

Entah sedang dikejar waktu atau memang hobi bekerja, namun sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya dampak buruk bagi kesehatan bila bekerja terlalu lama.

Selain stres, terlalu lama bekerja juga dapat memicu munculnya diabetes tipe 2, khususnya bagi perempuan.

Mahee Gilbert-Ouimet, seorang ahli epidemiologi dari Institute of Work and Health di Toronto dan koleganya telah menganalisis lebih dari 7.000 data karyawan di Kanada selama 12 tahun.

Mereka ingin memahami apakah ada hubungan antara jam kerja dengan risiko diabetes.

Sebagai catatan, dalam penelitian ini para ahli juga memperhitungkan faktor potensial lain yang dapat memengaruhi diabetes, seperti aktivitas fisik, indeks massa tubuh, dan merokok.

Hasil yang telah dipublikasikan dalam jurnal BMJ Diabetes Research & Care mengungkap, wanita yang bekerja lebih dari 45 jam dalam seminggu berisiko 51 persen lebih tinggi mengalami diabetes, dibanding wanita yang bekerja 35 sampai 40 jam dalam seminggu.

Namun, dampak ini tidak ditemukan pada pria. Faktanya, pria dengan jam kerja lama berisiko lebih rendah terkena diabetes.

“Saya terkejut saat melihat dampak yang berbeda antara pria dan perempuan terkait jam kerja yang panjang,” ungkap Mahee dilansir Time, Senin (2/7/2018).

Menurut Mahee, ini ada hubungannya dengan peran dan tanggung jawab perempuan untuk mengurus keluarga.

“Kita tahu banyak wanita yang memiliki banyak tugas dan tanggung jawab keluarga di luar tempat kerja. Terlebih bagi perempuan dengan anak-anak di bawah usia 12 tahun, mereka menghabiskan lebih dari 45 jam dalam seminggu di luar jam kerja kantor,” imbuhnya.

Selain itu,Mahee menduga perbedaan mencolok itu juga disebabkan oleh kegiatan selama bekerja yang dilakukan pria dan wanita.

Dalam penelitian, sekitar sepertiga pria yang bekerja menghabiskan waktu dengan duduk, berdiri dan berjalan.

Sementara, hanya delapan persen perempuan dalam penelitian yang melakukan hal tersebut.

Menurut Mahee, aktivitas fisik yang dilakukan selagi bekerja sangat berpengaruh dalam mengurangi risiko terkena diabetes.

Temuan ini pada akhirnya mendukung studi sebelumnya yang mengungkap bekerja terlalu lama berisiko tinggi meningkatkan diabetes, meski studi sebelumnya hanya melibatkan pria sebagai responden.

Fakta bahwa jam kerja yang terlalu lama berhubungan dengan diabetes tidak terlalu mengejutkan. Orang yang bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu akan mengalami stres tinggi dan mengubah beberapa hormon dalam tubuh seperti kortisol.

Perubahan hormon kortisol dapat memengaruhi kadar insulin tubuh dan kemampuannya dalam memecah glukosa.

Tingkat stres yang tinggi juga bisa mengganggu pola tidur dan menyebabkan kesehatan mental menjadi buruk. Pada gilirannya, hal ini berkontribusi pada perubahan berat badan, tingkat insulin, dan munculnya diabetes.

Mahee berharao, temuan ini dapat digunakan tenaga medis saat berkonsultasi dengan pasiennya, di mana jam kerja yang panjang bertanggung jawab pada kesehatan yang buruk. Terlebih di kalangan wanita yang lebih mungkin mengembangkan diabetes.

“Saya pikir dokter perlu untuk menanyakan berapa lama pasiennya bekerja dalam seminggu. Karena perempuan lebih berisiko, maka mereka harus lebih waspada dan melakukan tes skrining untuk diabetes,” katanya.

Mahee menyarankan, agar para perempuan mau memaksa diri untuk bekerja lebih sedikit dan beralih ke peduli diri sendiri.

dikutip dari kompas

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.