Inspirasi: Asma Nadia, Merilis Buku Inspiratif dan Membangun Rumah Baca Kreatif

Siapa bilang profesi penulis tak bermasa depan cerah? Bila tak percaya, tanyakan saja kepada penulis Asma Nadia.

Sang pemilik nama asli Asmarani Rosalba telah merasakan berkah dari dunia tulis menulis yang ditekuninya selama 16 tahun belakangan ini.

Semula tak ada yang menyangka, kepiawaiannya di dunia tulis menulis bermula dari hobi menulis lagu sejak berumur lima tahun. Beberapa lagu yang telah ia tulis berhasil menghiasi film Surga yang Tak Dirindukan dan Jilbab Traveler.

Kegemaran menulis juga Asma tuangkan dalam cerita pendek (cerpen), hingga akhirnya ia berhasil merilis buku pertamanya, pada 2000.

Melihat karya-karyanya yang kini laris di pasaran, Asma merasa sangat bersyukur, “Saya enggak merasa sesuatu yang baik itu terjadi karena kita kerja lebih keras atau cerdas. Saya yakin, banyak orang-orang yang bekerja lebih keras. Segala sesuatu itu terjadi karena kebaikan Allah.” Asma mengaku bahwa keberhasilannya ini juga menjadi cambuk bagi dirinya untuk terus berkarya di masa depan.

Saat ditemui di salah satu mal di Jakarta, belum lama berselang, wanita yang telah menghasilkan 50 buku ini sempat melakukan kilas balik perjuangannya.

“Tulisan pertama saya itu kayaknya enggak pernah dimuat di mana-mana. Pernah juga novel saya ada yang sudah tanda tangan kontrak sinetron, tapi enggak tayang-tayang sinetronnya. Beberapa novel yang saya sudah tanda tangan, terus dibatalkan sama produsernya itu juga ada,” katanya.

Namun itu semua tidak menurunkan semangat Asma Nadia. Ia terus mencari inspirasi untuk dijadikan bahan tulisan. Asma mengaku bahwa sebagian besar novel yang ia tulis merupakan kisah nyata diri sendiri maupun orang lain.

Surga yang Tak Dirindukan itu tokoh aslinya ada. Kalau yang Jilbab Traveler juga tokoh aslinya ada. Saya sudah mulai buka tampang aslinya di Instagram. Jadi aslinya ada dan 40 persennya pengalaman nyatanya Asma,” kata wanita yang sudah menjelajah 60 negara dan 216 kota kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (13/5)

Tidak hanya itu saja, Asma juga berujar bahwa dirinya ingin sekali bisa memberikan semangat untuk anak-anak muda agar terus berprestasi sekalipun sulit untuk menempuh pendidikan. Untuk mewujudkan impiannya tersebut, Asma pun membangun Rumah Baca Asma Nadia, pada 2003.

Sebagian hasil dari kerja kerasnya didonasikan untuk pembangunan rumah baca tersebut. Asma mengaku, “Seperti buku Emak Ingin Naik Haji itu kan honornya memang enggak Asma ambil.”

Hingga kini, jumlah Rumah Baca Asma Nadia sudah berjumlah 203 gedung dan akan bertambah menjadi 219 gedung pada tahun ini.

Selain dari royalti yang dihasilkan Asma, pembangunan rumah baca tersebut juga dibiayai oleh donatur perorangan. Walau begitu, jumlah rumah baca tersebut masih jauh dari target yang diinginkan Asma Nadia. Ia ingin membuat seribu perpustakaan duafa atau rumah baca.

Dalam rangka Hari Buku Nasional, Asma pun berpesan kepada seluruh perempuan Indonesia, “Kuncinya minat baca itu khususnya ada di perempuan Indonesia. Kalau mereka jadi istri dan ibu, mudah-mudahan jadi istri dan ibu yang suka membaca. Ciptakan momen membaca dengan keluarga. Beri perhatian yang serius untuk anak agar mau membaca dan membiasakan untuk memberi buku sebagai hadiah.”

Hal tersebut ia nyatakan lantaran saat ini budaya menonton dan internet sudah lebih dulu dikenal anak-anak dibandingkan dengan budaya membaca.

Asma berharap agar Pemerintah mau lebih serius menanggapi adanya isu pembajakan buku. Selain itu, agar Pemerintah juga menjadikan buku sebagai salah satu kebutuhan hidup masyarakat dengan cara menurunkan pajak buku agar harga jual buku bisa menjadi lebih murah.

Ia menegaskan, “Seharusnya buku itu dianggap sebagai media untuk mencerdaskan bangsa. Jadi harusnya dibuat lebih ringan. Saya ingin semangat orang membaca itu sama dengan semangat orang untuk menonton film.”

Tidak hanya itu saja, Asma juga berpesan pada penulis muda agar bisa lebih serius dalam menulis. “Buku itu kan sebagai karya abadi seseorang. Orang akan menilai dari apa yang kamu tulis. Jadi jangan menulis sesuatu yang akan kamu sesali. Satu lagi yang terakhir, perkuat media sosial. Mereka bisa gunakan media sosial mereka untuk mempromosikan buku-buku mereka.”

(cnnindonesia.com)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply